Kontribusi Ilmuwan Muslim Dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi - Tugas makalah Ilmu Alamiah Dasar

KATA PENGANTAR



Alhamdulillah tugas maka kuliah Ilmu Alamiah Dasar dengan judul kontribusi ilmuwan muslim dalam perkembanmgan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa diseleseikan. Tentunya tidak lepas dari kontribusi banyak pihak,
 Yang pertama kepada tuhan saya Allah S.W.T. yang telah melimpahkan saya rahmat dan nikmatnya sehingga saya mampu menyelesaikan tugas ini. Dan secara khusus saya sampaikan kepada dosen pengampu dari mata kuliah ini pak Andi Wahyu Wiratama M.A dan juga kepada semua teman seperjuangan di fakultas ushuluddin khususnya untuk program studi ilmu quran dan tafsir.

Maka dengan ini saya mengucapkan ribuan terima-kasih atas sumbang-saran, input dan kritik dalam rangka penyeleseian makalah ini. Semoga sebagai awal yang baik dan semoga kebaikan dan prestasi senantiasa mengiringi kita semua.

Gontor, Ahad, 6 Desember  2014

                                           Penulis










DAFTAR ISI




Kata Pengantar ----------------------------------------------------------------   
Daftar Isi -----------------------------------------------------------------------  

BAB 1 PENDAHULUAN -------------------------------------------------------------   
A. Latar Belakang -------------------------------------------------------------   
B  Rumusan Masalah ----------------------------------------------------------   
C. Tujuan Penulisan -----------------------------------------------------------
BAB 2 PEMBAHASAN ---------------------------------------------------------------   
A. Pembahasan Umum --------------------------------------------------------   
B. Pembahasn Khusus ---------------------------------------------------------
    A. Hubungan agama dan iptek ----------------------------------------------
    B. Peranan islam dalam iptek -----------------------------------------------
    C. Perlunya integrasi pendidikan iman, takwa, dan iptek -----------------
BAB 3 PENUTUP -----------------------------------------------------------------------  
A. Kesimpulan -----------------------------------------------------------------  
DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------------------------------  




 BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Para pemikir Islam abad XX, khususnya setelah Seminar Internasional Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua kategori
1.         Ilmu abadi (perennial knowledge) yang berdasarkan wahyu Illahi yang tertera dalam Alquran dan Hadist serta segala yang dapat diambil dari keduanya. hanya diberikan kepada manusia.
2.         Ilmu yang dicari (acquired knowledge) termasuk sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang kualitatif dan penggandaan, selama tidak bertentangan dengan Syariah sebagai sumber nilai.
Dalam konsep Islam (Timur), semua yang dipikirkan, dikehendaki, dirasakan dan diyakini, rnembawa manusia kepada pengetahuan dan secara sadar menyusunnya ke dalam sistem yang disebut ilmu. Tetapi berbeda dengan konsep (Barat), yang mengelompokkan ilmu itu kepada tiga; (1) Sciences (ilmu-ilmu kealaman, murni, biologi, fisika, kimia dan lainnya), (2) Social Sciences (ilmu-ilmu kemasyarakatan yang menyangkut perilaku manusia dalam interaksinya dalam masyarakat, dan (3) The Humanities (humaniora), ialah ilmu-ilmu kemanusiaan yang menyangkut kesadaran akan perasaan kepribadian dan nilai-nilai yang menyertainya sebagai manusia.
Para ilmuan dewasa ini, baik ahli sejarah atau filsafat sains mengakui, bahwa sejumlah gejala yang dipilih untuk dikaji oleh ilmuan adalah alam materi. Ilmu pengetahuan kealaman ini menurut A. Mattulada, yang utama menghasilkan peralatan-peralatan kehidupan manusia yang disebut teknologi.
Sejarah membuktikan, kontribusi Ilmuwan Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sangatlah besar. Kaya-karya ilmuwan Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, baik yang klasik maupun modern, bisa dikatakan sangat melimpah. 

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang kami menentukan rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      apa latar belakang agama dan ilmu pengetahuan dan iptek (iptek) ?
2.      Apa peran dan sumbangan ilmuwan islam dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) ?
C. Tujuan
            Tujuan dibuatnya makalah ini adalah agar mahasiswa mampu mengetahui sebagai berikut:
1.      latara belakang dari agama islam dan juga ilmu pengetahuan (iptek)
2.      Peran dan sumbangan ilmuwan islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)





BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENDAHULUAN
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di pelbagai penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan Iptek modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis multidimensional yang diakibatkannya.
Peradaban Barat moderen dan postmodern saat ini memang memperlihatkan kemajuan dan kebaikan kesejahteraan material yang seolah menjanjikan kebahagian hidup bagi umat manusia. Namun karena kemajuan tersebut tidak seimbang, pincang, lebih mementingkan kesejahteraan material bagi sebagian individu dan sekelompok tertentu negara-negara maju (kelompok G-8) saja dengan mengabaikan, bahkan menindas hak-hak dan merampas kekayaan alam negara lain dan orang lain yang lebih lemah kekuatan iptek, ekonomi dan militernya, maka kemajuan di Barat melahirkan penderitaan kolonialisme-imperialisme (penjajahan) di Dunia Timur & Selatan.
Kemajuan Iptek di Barat, yang didominasi oleh pandangan dunia dan paradigma sains (Iptek) yang positivistik-empirik sebagai anak kandung filsafat-ideologi materialisme-sekuler, pada akhirnya juga telah melahirkan penderitaan dan ketidakbahagiaan psikologis/ruhaniah pada banyak manusia baik di Barat maupun di Timur.[1]
Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Karena nyatanya saudara-saudara Muslim kita itu banyak yang masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya. Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis (’matre’) dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim.[2]
Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan  Iptek Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumberdaya manusianya (pendidikan dan Ipteknya). Ketidakadilan global ini terlihat dari fakta bahwa 80% kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 20 % penduduk kaya di negara-negara maju. Sementara 80% penduduk dunia di negara-negara miskin hanya memperebutkan remah-remah sisa makanan pesta pora bangsa-bangsa negara maju.
Tak sedikit yang memanfaatkan teknologi internet sebagai sarana untuk melakukan kejahatan dunia maya (cyber crime) dan untuk mengakses pornografi, kekerasan, dan perjudian.  Di sinilah, peran agama sebagai pedoman hidup menjadi sangat penting untuk ditengok kembali. Dapatkah agama memberi tuntunan agar kita memperoleh dampak iptek yang positif saja, seraya mengeliminasi dampak negatifnya semiminal mungkin? Sejauh manakah agama Islam dapat berperan dalam mengendalikan perkembangan teknologi modern? Tulisan ini bertujuan menjelaskan peran Islam dalam perkembangan dan pemanfaatan teknologi tersebut.

B.     PEMBAHASAN
A Hubungan agama dengan Iptek
Untuk memperjelas, akan disebutkan dulu beberapa pengertian dasar. Ilmu pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method).[3] Sedang teknologi adalah pengetahuan dan ketrampilan yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari[4].  Perkembangan iptek, adalah hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek. Agama yang dimaksud di sini, adalah agama Islam, yaitu agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw, untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya (dengan aqidah dan aturan ibadah), hubungan manusia dengan dirinya sendiri (dengan aturan akhlak, makanan, dan pakaian), dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (dengan aturan mu’amalah dan uqubat/sistem pidana).
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Dari ayat diatas menjelaskan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk dipelajari dan dimiliki.  Secara garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi yang mendasari hubungan keduanya, terdapat 3 (tiga)   jenis paradigma :[5]
Pertama,paradagima sekuler, yaitu paradigma yang memandang agama dan iptek adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam ideologi sekularisme Barat, agama telah dipisahkan dari kehidupan .Agama tidak dinafikan eksistensinya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan pribadi manusia dengan  tuhannya.  Agama tidak  mengatur kehidupan umum/publik. Paradigma ini memandang agama dan iptek tidak bisa mencampuri dan mengintervensi yang lainnya.
Kedua, paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan iptek. Iptek bisa berjalan secara independen dan lepas secara total dari agama. Paradigma ini mirip dengan paradigma sekuler di atas, tapi lebih ekstrem. Dalam paradigma sekuler, agama berfungsi secara sekularistik, yaitu tidak dinafikan keberadaannya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan vertikal manusia-tuhan. Berdasarkan paradigma sosialis ini, maka agama tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan iptek. Seluruh bangunan ilmu pengetahuan dalam paradigma sosialis didasarkan pada ide dasar materialisme, khususnya Materialisme Dialektis. Paham Materialisme Dialektis adalah paham yang memandang adanya keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus melalui proses dialektika, yaitu melalui pertentanganpertentangan yang ada pada materi yang sudah mengandung benih perkembanganitu sendiri.  Sedang dalam paradigma sosialis, agama dipandang secara   ateistik, yaitu dianggap tidak ada (in-exist) dan dibuang sama sekali dari kehidupan. Berdasarkan paradigma sosialis ini, maka agama tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan iptek.
Ketiga, paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan. Aqidah Islam yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam al-Qur`an dan al-Hadits-- menjadi qaidah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia.[6]
  Paradigma ini memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan Aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah itu. Ini bisa kita pahami dari ayat yang pertama kali turun (artinya) :  “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. (Qs. Al-Alaq [96]: 1).  Ayat ini berarti manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam[11].
Paradigma inilah yang telah mencetak muslim-muslim yang taat dan shaleh tapi sekaligus cerdas dalam iptek. Itulah hasil dan prestasi cemerlang dari paradigma Islam ini yang dapat dilihat pada masa kejayaan iptek Dunia Islam antara tahun 700 M - 1400 M[12]. Pada masa inilah dikenal nama Jabir bin Hayyan (w. 721) sebagai ahli kimia termasyhur, Al-Khawarzmi (w. 780) sebagai ahli matematika dan astronomi, Al-Battani (w. 858) sebagai ahli astronomi dan matematika, Al-Razi (w. 884) sebagai pakar kedokteran, ophtalmologi, dan kimia, Tsabit bin Qurrah (w. 908) sebagai ahli kedokteran dan teknik, dan masih banyak lagi.



B Peranan Islam Dalam Iptek
1.Aqidah Islam Sebagai Dasar Iptek
Inilah peran pertama yang dimainkan Islam dalam iptek, yaitu aqidah Islam harus dijadikan basis segala konsep dan aplikasi iptek. Inilah paradigma Islam sebagaimana yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw.  Paradigma Islam inilah yang seharusnya diadopsi oleh kaum muslimin saat ini. Bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Diakui atau tidak, kini umat Islam telah telah terjerumus dalam sikap membebek dan mengekor Barat dalam segala-galanya; dalam pandangan hidup, gaya hidup, termasuk dalam konsep ilmu pengetahuan. Bercokolnya  paradigma sekuler inilah yang bisa menjelaskan, mengapa di dalam sistem pendidikan yang diikuti orang Islam, diajarkan sistem ekonomi kapitalis yang pragmatis serta tidak kenal halal haram. Eksistensi paradigma sekuler itu menjelaskan pula mengapa tetap diajarkan konsep pengetahuan yang bertentangan dengan keyakinan dan keimanan muslim.
Namun di sini perlu dipahami dengan seksama, bahwa ketika Aqidah Islam dijadikan landasan iptek, bukan berarti konsep-konsep iptek harus bersumber dari al-Qur`an dan al-Hadits, tapi maksudnya adalah konsep iptek harus distandardisasi benar salahnya dengan tolok ukur al-Qur`an dan al-Hadits dan tidak boleh bertentangan dengan keduanya. Jika kita menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek, bukan berarti bahwa ilmu astronomi, geologi, agronomi, dan  seterusnya, harus didasarkan pada ayat tertentu, atau hadis tertentu. Kalau pun ada ayat atau hadis yang cocok dengan fakta sains, itu adalah bukti keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu (lihat Qs. an-Nisaa` [4]:126 dan Qs. ath- Thalaq [65]: 12), bukan berarti konsep iptek harus bersumber pada ayat atau hadis tertentu. Misalnya saja dalam astronomi ada ayat yang menjelaskan bahwa matahari sebagai pancaran cahaya dan panas (Qs. Nuh [71]: 16), bahwa langit (bahan alam semesta) berasal dari asap (gas) sedangkan galaksi-galaksi tercipta dari kondensasi (pemekatan) gas tersebut (Qs. Fushshilat [41]: 11-12), dan seterusnya. Ada sekitar 750 ayat dalam al-Qur`an yang semacam ini[7].  Ayat-ayat ini menunjukkan betapa luasnya ilmu Allah sehingga meliputi segala sesuatu, dan menjadi tolok ukur kesimpulan iptek, bukan berarti bahwa konsep iptek wajib didasarkan pada ayat-ayat tertentu.
Ringkasnya, al-Qur`an dan al-Hadits adalah standar (miqyas) iptek, dan bukannya sumber (mashdar) iptek. Artinya, apa pun konsep iptek yang dikembangkan, harus sesuai dengan al-Qur`an dan al-Hadits, dan tidak boleh bertentangan dengan al-Qur`an dan al-Hadits itu. Jika suatu konsep iptek bertentangan dengan al-Qur`an dan al-Hadits, maka konsep itu berarti harus ditolak. Misalnya saja Teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari organisme sederhana yang selama jutaan tahun berevolusi melalui seleksi alam menjadi organisme yang lebih kompleks hingga menjadi manusia modern sekarang. Berarti, manusia sekarang bukan keturunan manusia pertama, Nabi Adam AS, tapi hasil dari evolusi organisme sederhana. Ini bertentangan dengan firman Allah SWT yang menegaskan, Adam AS adalah manusia pertama, dan bahwa seluruh manusia sekarang adalah keturunan Adam AS itu, bukan keturunan makhluk lainnya sebagaimana fantasi Teori Darwin.
2.Syariah Islam harus dijadikan Standar Pemanfaatan Iptek
 Ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam) wajib dijadikan tolok ukur dalam pemanfaatan iptek, bagaimana pun juga bentuknya. Iptek yang boleh dimanfaatkan, adalah yang telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sedangkan iptek yang tidak boleh dimanfaatkan, adalah yang telah diharamkan syariah Islam.  Keharusan tolok ukur syariah ini didasarkan pada banyak ayat dan juga hadits yang mewajibkan umat Islam menyesuaikan perbuatannya (termasuk menggunakan iptek) dengan ketentuan hukum Allah dan Rasul-Nya. Antara lain firman Allah: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan”(Qs. an-Nisaa` [4]: 65).  “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain- Nya”(Qs. al-A’raaf [7]: 3). Sabda Rasulullah Saw:  “Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak” [HR.Muslim].
 Kontras dengan ini, adalah apa yang ada di Barat sekarang dan juga negeri-negeri muslim yang bertaqlid dan mengikuti Barat secara membabi buta. Standar pemanfaatan iptek menurut mereka adalah manfaat, apakah itu dinamakan pragmatisme atau pun utilitarianisme. Selama sesuatu itu bermanfaat, yakni dapat memuaskan kebutuhan manusia, maka ia dianggap benar dan absah untuk dilaksanakan. Meskipun itu diharamkan dalam ajaran agama.
Keberadaan standar manfaat itulah yang dapat menjelaskan, mengapa orang Barat mengaplikasikan iptek secara tidak bermoral, tidak berperikemanusiaan, dan bertentangan dengan nilai agama. Misalnya menggunakan bom atom untuk membunuh ratusan ribu manusia tak berdosa, memanfaatkan bayi tabung tanpa melihat moralitas (misalnya meletakkan embrio pada ibu pengganti), mengkloning manusia (berarti manusia bereproduksi secara a-seksual, bukan seksual), mengekploitasi alam secara serakah walaupun menimbulkan pencemaran yang berbahaya, dan seterusnya.  Karena itu, sudah saatnya standar manfaat yang salah itu dikoreksi dan diganti dengan standar yang benar. Yaitu standar yang bersumber dari pemilik segala ilmu yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang amat mengetahui mana yang secara hakiki bermanfaat bagi manusia, dan mana yang secara hakiki berbahaya bagi manusia. Standar itu adalah segala perintah dan larangan Allah SWT yang bentuknya secara praktis dan konkret adalah syariah Islam.[8]

C.Perlunya Integrasi Pendidikan Iman,Takwa,dan IPTEK
Pertama, sebagaimana telah dikemukakan, iptek akan memberikan berkah dan manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan hidup umat manusia bila iptek disertai oleh asas iman dan takwa kepada Allah swt. Sebaliknya, tanpa asas imtak, iptek bisa disalah gunakan pada tujuan-tujuan yang bersifat destruktif. Iptek dapat mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Jika demikian, iptek hanya absah secara metodologis, tetapi batil dan miskin secara maknawi.
Kedua, pada kenyataannya, iptek yang menjadi dasar modernisme, telah menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang bersifat sekularistik, materialistik, dan hedonistik, yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang dianut oleh bangsa kita.
            Ketiga, dalam hidupnya, manusia tidak hanya memerlukan sepotong roti (kebutuhan jasmani), tetapi juga membutuhkan imtak dan nilai-nilai sorgawi (kebutuhan spiritual). Oleh karena itu, penekanan pada salah satunya, hanya akan menyebabkan kehidupan menjadi pincang dan berat sebelah, dan menyalahi hikmat kebijaksanaan Tuhan yang telah menciptakan manusia dalam kesatuan jiwa raga, lahir dan bathin, dunia dan akhirat.
Keempat, imtak menjadi landasan dan dasar paling kuat yang akan mengantar manusia menggapai kebahagiaan hidup. Tanpa dasar imtak, segala atribut duniawi, seperti harta, pangkat, iptek, dan keturunan, tidak akan mampu alias gagal mengantar manusia meraih kebahagiaan. 
Dari ayat diatas dijelaskan bahwa, Kemajuan dalam semuanya itu, tanpa iman dan upaya mencari ridha Tuhan, hanya akan mengahsilkan fatamorgana yang tidak menjanjikan apa-apa selain bayangan palsu.
 Maka integrasi imtak dan iptek harus diupayakan dalam format yang tepat sehingga keduanya berjalan seimbang (hand in hand) dan dapat mengantar kita meraih kebaikan dunia (hasanah fi al-Dunya) dan kebaikan akhirat (hasanah fi al-akhirah) seperti do’a yang setiap saat kita panjatkan kepada Tuhan. Firman Alllah swt Q.S. Al-Baqarah :201;
Ada berbagai  alasan umat Islam untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) :
1.      Ilmu  pengetahuan yg berasal dari dunia Islam sudah diboyong oleh negara-negara barat. Ini fakta, tdk bisa dipungkiri.
2.      Degara-negara barat berupaya mencegah terjadinya pengembangan IPTEK di negara-negara Islam.
3.   Adanya upaya-upaya untuk melemahkan umat Islam dari memikirkan kemajuan IPTEK-nya, misalnya umat Islam disodori persoalan-persoalan klasik agar umat Islam sibuk sendiri, ramai sendiri dan akhirnya bertengkar sendiri.
















BAB III
KESIMPULAN
A.Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa peran Islam yang utama dalam perkembangan iptek setidaknya ada 2 (dua). Pertama, menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma pemikiran dan ilmu pengetahuan. Jadi, paradigma Islam, dan bukannya paradigma sekuler, yang seharusnya diambil oleh umat Islam dalam membangun struktur ilmu pengetahuan. Kedua, menjadikan syariah Islam sebagai standar penggunaan iptek. Jadi, syariah Islam-lah, bukan standar manfaat (utilitarianisme), yang seharusnya dijadikan tolok ukur umat Islam dalam mengaplikasikan iptek.
Jika dua peran ini dapat dimainkan oleh umat Islam dengan baik, insyaallah akan ada berbagai berkah dari Allah kepada umat Islam dan juga seluruh umat manusia. Mari kita simak firman-Nya:“Kalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. al-A’raaf [7]: 96).
Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
 Kemajuan IPTEK sangat berdampak bagi kehidupan manusia didunia. Sebagai generasi muda penerus bangsa sudah selayaknya kita belajar untuk menggunakan dan memanfaatkan Ilmu pengetahuan dan teknologi sebaik mungkin namun tetap berdasar aturan-aturan Agama Islam. Sudah semestinya kita bersatu menguasai IPTEK agar tidak kalah dengan bangsa lain itu. Namun, tetap saja, jika kita telah mendapatkan IPTEK, segeralah imbangi diri anda dengan Iman dan Taqwa.
               




                                                                                                        
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad dkk, Islam dan Ilmu Pengetahuan , ( Bangil, Al-Izzah, 1999)
Abdul Qadim Zalum, Demokrasi Sistem Kufur : Haram Mengambil, Menerapkan dan Menyebarluaskannya,(Bogor, Pustaka Thariqul Izzah, 2001)
Abdurrahman Al-baghdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khalifah Islam, (Bangil, Al-Izzah, 1996)
---------------------, Al-Qur’an Mukjizat Yang Abadi: Jurnal Al-Ihsan. Vol I. No. 1. Januari, (Jakarta, Lembaga Kajian dan Pengembangan  Al-Ihsan)
Agus Bustanudin, Pengembangan Ilmu –Ilmu Sosial: Studi Banding Antara Ilmiah dan Ajaran Islam, ( Jakarta, Gema Insani Press, 1999
A. Charis Zubair,  Etika  Rekayasa Menurut Konsep Islam,     (Yogyakarta, Pustaka Pelajar,1997).
An-Nabhani, Nizham Al-Islam,(  Hizbut Tahir, 2001 )


[1] [1] Ahmad dkk, Islam dan Ilmu Pengetahuan , ( Bangil, Al-Izzah, 1999)hal  56

[2] [RA. Gunadi & M. shoelhi, Khasanah Orang Besar Islam  dari Penakluk Jerussalem Hingga Nol, (Jakarta, Penerbit Republika, 2003) hal 78
[3] Jujun S Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang  Hakekat Ilmu, ( Jakarta, PT. Gramedia, Cetakan  X,1992) hal. 123
[4] Jujun S Suriasumantri,  Ilmu Dalam Perspektif moral, Sosial, dan  Politik,   ( Jakarta: PT. Gramedia, 1986 ) hal. 43

[5] yahya Fargal Hasan, Pokok Pikiran Tentang Hubungan  Ilmu Dengan Agama : Dalam Abdul Hamid Abu Sulaiman  Permasalahan Metodologis dalam Pemikiran Islam , (Jakarta, Media dakwah, 1990) hal . 99 - 119

[6] An-Nabhani, Nizham Al-Islam,(  Hizbut Tahir, 2001 ) hal 34

[7] Abdurrahman Al-Baghadadi, Al-Qur’an Mukjizat Yang Abadi: Jurnal Al-Ihsan. Vol I. No. 1. Januari, (Jakarta, Lembaga Kajian dan Pengembangan  Al-Ihsan) hal 104-114
[8] Ziauddin Sardar, Masa Depan Islam,( Bandung, Pustaka, 1987) hal 53





0 komentar:

Mata Ini Bertasbih......

Sunyi malam itu, sepi
yang terdengar suara jangkrik.
semuanya seakan terdiam, suasana malam hari.
terasa pas tuk gambarkan jiwa ini.

mata ini susah untuk kurayu agar menutup.
padahal kantuk telah menyerang hebat.
serasa dalam diri ada yang memanggil.
"hai .....' mungkin mencoba mengatakan sesuatu.
jujur hati ini gelisah, sulit terkiaskan sungguh ini tidak realistis.

telah kucoba membaca, menonton film, atau mungkin sekedar makan.
apapun kukerjakan tuk membuatku mata ini lelah.
ayolah kawan......! aku ingin tidur.
tidakkah kau lelah ?
sudah terlalu banyak yang terjadi.

kalau mungkin mata ini bebicara, yang kurasakan inilah jawabannya.
"tidakkah kau ingat Allah" kurang lebih ini yang kurasakan.
mengingat saat itu aku belum bersujud kepadanya diwaktu isya'.

wahai mata yang diciptakan olehnya....
betapa kau mencintai penciptamu.
aku malu denganmu.
aku malu dengan Allah.
betapa sempurna engkau bertasbih kepadanya tanpa kau hiraukan letihmu....

"يسبّح له ما في السّماوات و ما في الأرض"

0 komentar:

Mencetak Pemuda Berkualitas............

 Mecetak pemuda Berkualitas
إِنَّ الشَّبَابَ وَالْفَرَاغَ وَالْجِدَةَ مَفْسَدَةٌ لِلْمَرْءِ أَيَّ مَفْسَدَةٍ
Sesungguhnya pemuda, waktu yang kosong dan harta yang banyak itu adalah sumber dari segala kerusakan

Berbicara tentang pemuda, tentu banyak sekali hal menarik yang berkaitan dengannya yang tentu tak ada habisnya jika dibahas. Entah itu di tinjau dari segi positif maupun negative, sejenak marilah kita menoleh kebelakang untuk meneliti kembali peran pemuda khususnya dinegara Indonesia. pada tanggal 28 oktober yang lalu, rakyat Indonesia bersama memperingati hari sumpah pemuda yang tepatnya terjadi pada yahun 1928 silam. Di hari itulah wakil-wakil dari seluruh pemuda Indonesia mengucapkan sumpah mereka yang berisi akan tumpah darah, bangsa, dan bahasa mereka yang satu yaitu Indonesia
                Tak bisa di pungkiri bahwasannya kemerdekaan Indonesia tak bisa lepas dari campur tangan pemuda-pemuda Indonesia yang kala itu senantiasa berani membela bangsa Indonesia dibawah otoritas para penjajah, pemuda pada waktu itu lebih banyak mengisi hari-hari mereka demi mewujudkan kemerdekaan Indonesia, hal ini terbukti dengan banyaknya kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan para pemuda demi terwujudnya tujuan yang dicita-citakan.
                Akan tetapi alangkah sedihnya apabila ketika kita kembali kemasa kini dan melihat pemuda-pemuda Indonesia yang lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan kegiatan yang negatif dan tak berguna bahkan tak ayal merugikan bangsa Indonesia seakan-akan mereka telah melupakan semua perjuangan dan sumpah para pemuda dizaman penjajahan dahulu.
                Di tambah lagi dengan banyaknya berita tak sedap yang disebabkan oleh ulah pemuda masa kini. Seperti maraknya pemberitaan tentang pelajar yang mendekam dipenjara karena terjerat kasus narkotika,tawuran,perjudian,pemerkosaan,dan bahkan tak jarang pula kita dapatkan berita tentang pemuda yang terjerat kasus pembunuhan.
                Tentu masih segar diingatan kita akan kasus pembunuhan Ade Sara yang dilakukan oleh sepasang  mahasiswa yang bernama Hafiz dan pacarnya Syifa ramadhan, pembunuhan yang dilakukan atas dasar sakit hati karena Hafiz diputuskan oleh Ade sara sementara Syifa takut kalau pacarnya hafiz kembali kepada Ade Sara. Tentu kasus ini sangat memilukan. Karena pemuda yang seharusnya bertugas menuntut ilmu malah melakukan pembunuhan dengan cinta sebagai alasannya.
                Belum lagi maraknya kasus penganiayaan yang dilakuakn oleh pelajar kepada temannya dan juga banyaknya kasus bullying yang akhir-akhir ini banyak menyeruak kepermukaan, yang kesemuanya melibatkan pemuda sebagai aktor utama dari terjadinya kasus tersebut, semua ini berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan para pemuda pada zaman penjajahan dahulu.
                Dewasa ini kebutuhan para pemuda seakan-akan tercukupi dengan banyaknya teknologi-teknologi mutakhir, kehidupan yang terbebas dari penjajahan, ditambah lagi dengan sokongan fasilitas yang disediakan pemerintah demi menunjang prestasi para pemuda Indonesia. Semua itu seakan terasa sia-sia dengan banyaknya prilaku buruk yang dilakukan para pemuda sebagai timbal balik dari semua fasilitas yang diberikan.
                Meskipun tanpa menutup kemungkinan, akan banyaknya pemuda diluar sana yang masih memegang semangat perjuangan. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya pemuda yang berhasil berprestasi dan mengharumkan nama bangsa Indonesia dengan segudang prestasi yang telah mereka raih.
                Mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-tirmizi , Rasulullah S.A.W bersabda dalam hadits Abdullah bin mas’ud radhillahu ‘anhu, "Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya". (HR. At-Tirmizi).
                Pemuda islam adalah harapan bagi bangsa,Negara dan agama, maka alangkah baiknya apabila masa muda diisi dengan berbagi kegiatan positif dan juga amal baik yang diniati lillahi ta’ala, demi terwujudnya generasi emas yang siap mengantarkan ummat islam kepada kejayaan hakiki.
                Sudah seharusnya pemuda bangkit dan keluar dari keterpurukan, dimulai dengan memanfaat kan masa muda dengan sebaik-baiknya, senantiasa menghindarkan diri dari kekosongan yang bisa mengakibatkan kerusakan kepada dirinnya, serta mengambil langkah yang lebih bijak dengan harta yang dia miliki.
                Sudah menjadi kewajiban bagi seluruh pemuda untuk memberikan perhatian lebih pada masa mudanya dengan lebih banyak memanfaatkan waktu dengan amal sholeh untuk meraih masa depan yang gemilang, dan para pemuda juga seharusnya sadar bahwasannya ditangan merekalah masa depan bangsa, Negara, dan agama dipertaruhkan.
                Atas dasar inilah pondok modern Darusaalam Gontor, senantiasa berusaha untuk memberdayakan kemampuan  para pemuda muslim, agar nantinya siap menjadi generasi millennium yang cerdas denga kemampuan yang mumpuni dalam memimpin serta membawa ummat kearah yang lebih baik demi tercapainya perubahan yangt dinantikan.
                Dengan berpegang teguh pada alqur’an dan sunnah rasulullah, serta dengan dengan panca jiwa pondok modern Darussalam Gontor yaitu, keikhlasan, kederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah, dan juga kebebasan. Maka, akan tercipta pemuda yang berbudi tinggi, sehat badannya, luas pengetahuannya serta bebas dalam berfikir.
                Tibalah waktu dimana revolusi mental diberlakukan agar para pemuda tidak merugi suatu hari kelak, semunya hanya bisa terwujud dengan adanya para pemuda yang berkualitas, cerdas pemikirannya, pantang menyerah, serta dapat menjadi uswah hasanah bagi sekelilingnya.
               



               


               
DARUSSALAM POS 2014


0 komentar:

LANGUAGE IS NOT EVERYTHING BUT EVERYTHING WITHOUT LANGUAGE IS NOTHING>>>

semula, banyak sekali pikiran yang melayang dibenak ini ketika pertama kali masuk ke pondok modern Darussalam Gontor, entah pikiran negatif maupun positif, yaa... bisa dimaklumi karena ketika pertama kali masuk, saya belum siap secara mental,tetapi dengan motivasi orang tua, pada akhirnya saya betah juga bahkan hingga sekarng telah menjadi alumni.
susah untuk diungkapkan pendidikan yang saya dapatkan selama saya mondok di PM Gontor, terlalu banyak kenangan manis dan juga pahit yang telah saya jalani bersama banyak kawan saya, sungguh pengalaman yang sangat berharga yang saya dapatkan, semuanya dapat merubah mental, karakter, dan juga pola pikir saya, hingga saya tumbuh menjadi anak yang dewasa sekarang ini.
satu kisah hidup yang tak mungkin saya lupakan adalah ketika saya diamanatkan untuk menjadi pengurus di bagian penggerak bahasa, yang mana saya pada waktu itu adalah salah satu dari mungkin banyak santri yang mempunyai kemampuan berbahasa yang bisa dibilang pas-pasan atau bahkan bisa dibilang gak bisa bangetlah.
akan tetapi karena amanat tersebut harus saya jalani, maka saya menerimanya dengan lapang dada. yang terbersit dalam pikiran ketika itu adalah "mungkin ini adalah yang terbaik buat saya" dengan bismillah, saya jalani hari-hari dengan semangat.
I GOT MUCH FROM THERE. cuma kata inilah yang keluar ketika saya melihat kembali kamar saya dulu dibagian penggerak bahasa pusat karena sekarang saya telah diamanati dengan amanat yang baru yaitu menjadi salah satu staf di bagian LANGUAGE ADVISORY COUNCIL (LAC), yaaah bisa dibilang kurang lebih tugas yang saya emban sekarang sama dengan tugas yang saya emban ketika menjadi bagian penggerak bahasa pusat ketika kelas 6 dulu. 
satu yang ingin saya katakan "THANK YOU ALLAH" engaku memang pemberi sebaik-baiknya pemberi,pengatur, sebaik-baiknya pengatur.
satu pesan dari saya.

عسي أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم

وعسي أن  تحبّوا شيئا فهو شرّ لكم

LANGUAGE ADVISORY COUNCIL 2015

CENTRAL FOR LANGUAGE IMPROVEMENT 2014


0 komentar:

Alhamdulillah....

Alhamdulillah, mungkin kata inilah yang pertama kali bisa saya ucapkan setelah rampungya pembuatan blog ini, karena memang sebelumnya saya sama sekali tidak mengetahui apa itu sebenarnya blog dan apa kegunaan dari blog itu sendiri.
bermula dari melihat seorang teman yang seneng banget ngutak-ngatik komputer, saya merasa ada sesuatu yang mungkin mengasyikkan,
sebenarnya blog juga telah saya ketahui dari beberapa buku hasil kumpulan tulisan si penulis yang katanya dari blog, jujur saya sangat tertarik dengan dunia tulis-menulis sehingga saya sangat menginginkan untuk mempunyai blog sendiri agar dapat berbagi cerita dengan teman-teman.
sekian untuk tulisan yang pertama ini, semoga nantinya bisa mendatangkan manfaat.

1 komentar:

Blogger templates

Blogger news

handapeunpost

Adilpratamanusantara. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Translate

Contributors

Popular Posts

Popular Posts

Popular Posts